Alhamdulillah


Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Allahu Akbar. Hampir 8 bulan lamanya menyusun tugas akhir penentu kelulusan ini. Dimulai dari nyari tema yang Alhamdulillah bikin galau.. kemudian ujian proposal, penelitian sampe yang terberat adalah penyusunan laporan penelitian. Mengapa terberat? Karena banyaaaak sekali godaannya. Sulit memulai, keseringan main daaaan lain lain. Tapi berkat tekad yang kuat, akhirnya tugas akhir ini selesai tepat pada waktunya. Meskipun harus bergadang di bulan ramadhan. 

Betapa Allah memudahkan segala urusan makhlukNya, tiada henti bersyukur atas nikmat-Nya. Kini setelah dinyatakan lulus, akan ada banyak ujian lagi kedepannya. Kehidupan nyata yang harus dilalui. Kehidupan baru untuk mengamalkan ilmu yang telah didapat. 

Semoga Allah senantiasa memberi kelancaran. Bismillahirahmanirrahim... 

Cinta dalam diam


Dia menghembuskan nafas dengan berat sebelum sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya. 

"Seandainya nanti, aku memberitahukan perasaanmu kepadanya, apa boleh? Akan kulakukan segala cara agar dia bisa tahu bahwa kamu menyukainya sejak SMA. Akan kucari alamat emailnya, aku tidak akan malu, toh akupun tak mengenalnya. Bagaimana menurutmu?"

Oh Dee, dia adalah sahabat yang tahu benar bagaimana perasaanku padanya, seseorang yang sudah 6 tahun tidak bisa pergi dari hatiku. Meskipun kami baru dekat akhir masa perkuliahanku, tapi dia membuatku merasa bisa menceritakan apapun padanya.. 

Aku menggelang menjawab pertanyaannya.

"Tidak. tidak.. ini tidak akan berhasil, Dee. Sungguh aku malu dan setelah kau memberitahunya aku tidak berani bertemu dia lagi." 

Dee terdiam menatapku. Dia kembali melontarkan pertanyaan yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. 

"Lalu kamu akan diam terus seperti ini? Bagaimana jika dia akhirnya dengan wanita lain? Sebenernya aku tidak habis pikir, memangnya hatimu tidak sakit memendam terus perasaanmu seperti ini? Sampai kapan?"

Dia berbicara dengan suara tersendat karena menahan tangis. Tangisannya membuatku tertegun.

"Dee, mengapa menangis?"

Dee mengusap air mata yang mengalir di pipinya, lalu menjawab seraya menatapku tajam. 
"Aku tidak akan tahan memendam perasaanku seperti kamu. Bagaimana bisa kamu seperti itu selama ini. Bagaimana bisa?" 

Aku menuduk tak berani menatapnya yang masih berusaha agar tangisannya berhenti. Mataku terpejam, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Dee. 

"Dee.. bukan hatiku tidak sakit, bukan. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Aku wanita biasa. Yang malu apabila mengakui perasaanku padanya. Dia adalah pria. Pria dengan sejuta pesona yang membuat semua wanita menyukainya. Dia tidak terjangkau untukku. Dia tidak mengenalku. Kami jarang bertegur sapa, aku tidak bisa berada di sekelilingnya karena pasti aku bertingkah konyol. Tidak ada kesempatan untukku bahkan untuk mengobrol dengannya. Dee, maafkan aku membuatmu menangis. Tapi sungguh, biar Allah yang menentukan semuanya. Aku mencoba menerima bahwa mungkin dia bukanlah bagian dari tulang rusukku. Meskipun namanya selalu ada dalam setiap doa-doaku. Aku tidak akan berharap banyak, Dee. Dia sempurna. Aku tidak. Itu cukup untukku agar aku tidak terlalu berharap padanya. Meskipun akan sangat menyakitkan jika akhirnya dia dibersamakan Allah dengan wanita lain.Aku yakin Allah menyiapkan jodoh yang tepat buatku. Entah dia atau orang lain." Aku menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanku. 

"Terima kasih atas kepedulianmu. Terima kasih banyak Dee. Maafkan aku yang tidak berani ini... "
Aku memeluk Dee dan tanpa sadar air mataku jatuh.. 
Biarlah. Biarlah cinta ini tidak tersampaikan. Tidak apa..




Hallo, 2015

Aku menulis ini saat di perpustakaan pusat UGM. Nyicil mengerjakan Tugas Akhir-ku.
disaat yang lain mulai cari kerja, disini aku malah males malesan. duh Ya Allah. ampuni aku. entah kenapa aku jadi seperti ini...

banyak hal yang berubah. tahun ini igar sudah menikah. subhanallah, aku tentu saja senang. ingin rasanya punya kisah seperti igar. someday, maybe. insha Allah.

sebenarnya ada yang tidak berubah, muaraku ternyata tetap sama. kukira setelah lama waktu berselang aku dapat mengikis perasaan itu. tapi ternyata tidak bisa.

Allah, aku tidak ingin mengukir namanya dalam hatiku. tidak. aku takut dikecewakan. bantu aku ya Allah. agar aku ikhlas dengan semua takdir yang kau beri.

amin.

06.05.2014

Empat tahun lalu, di Yogyakarta aku pernah bermimpi. Tinggal disini, dan menyambut guru serta adik kelas yang study tour ke Yogya dan UGM.

Pertama kali menginjak tanah UGM, aku langsung berpikir "Aku harus kuliah disini."
and here I'am. Aku bisa kuliah disini. Aku bisa tinggal di Yogya. Aku bisa menyambut guru dan adik-adikku. 

"SMA Al-Muttaqin itu memang pembangun karakter"

Ya!
Aku setuju. Disana kami belajar banyak. Sampai-sampai aku tidak bisa menuliskan satu persatu disini.

Yang pasti, aku ditempa, dicambuk dengan berbagai pembelajaran hidup yang membuat karakterku hidup. 

Terima kasihku yang tak terhingga untuk kalian, Guruku. Kalian adalah orang tua, sahabat, guru dan teman hidupku selama SMA.

Pun untuk kehidupan selanjutnya. Jangan pernah bosan mendengar keluh kesahku.
Semoga Allah melindungi kalian. :)

(bersama Pak Ade Sholehuddin di GSP, 06-05-2014, 09:53 WIB)




Angan

Mari kita berangan setinggi mungkin. Karena Allah akan mencatat angan itu hingga suatu saat Beliau mengabulkan angan kita. Tidak ada yang tidak mungkin. Jika Allah berkehendak 'itu' maka 'itu'lah yang terjadi.

-ditulis di warung nasi bakar, jl. Kaliurang KM. 5. saat kembali teringat kisah seorang sahabat. :)

Karena Hanya Aku Yang Bisa



“Oh ya Hyuna-ya, lama tak jumpa”

Seorang pria berambut hitam dan memakai kaos yang senada dengan rambutnya menyapa Hyuna yang baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu apartemen milik kakak-kakaknya itu. Gadis itu menghambur masuk ke dalam ruangan dan langsung duduk di sofa yang masih tersisa tempat untuk satu orang. Sedangkan pria tadi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Hyuna. Selalu seperti itu.

“Hallo Oppadeul.” Gadis itu melambaikan tangan kepada pria-pria yang berada di ruangan itu. Lee Hyukjae-pria berambut hitam tadi, Lee Sungmin, Kim Heechul dan Kim Ryeowook.

“Kemana saja kau gadis manja. Tumben sekali mengunjungi kami.” Heechul bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar televisi yang menampilkan drama favoritnya, Emergency Couple.

Yang ditanya hanya nyengir kuda, tidak menjawab pertanyaan Heechul. Dia sadar, dia belum pernah datang kemari lagi sejak insiden itu. Lee Sungmin menatapnya dengan tatapan bertanya. Dia mengetahui perihal hubungan gadis itu dengan seseorang yang ada di dorm ini. Jadi dia cukup penasaran kenapa tiba-tiba Hyuna datang kemari. Apakah berniat untuk menyelesaikan permasalahan yang menurutnya amat sangat kekanakan itu?

“YAK! Jawab pertanyaanku!” Heechul menjitak kepala Hyuna yang hendak mengambil kentang goreng di meja. Gadis itu meringis dan mengusap kepalanya, mengerucutkan bibir atas perlakuan yang diterimanya dari pria ‘evil’ ini.

“Aku disuruh Donghae Oppa untuk main kesini. Dan mana orangnya. Aku sudah lama tak bertemu dengannya”

Semua orang mengangkat alis,  menyuarakan keheranannya di kepala masing-masing, menatap gadis itu. ‘apa dia tak tahu, Donghae sedang pergi ke Mokpo untuk menjenguk ibunya?’

“Jangan bercanda. Donghae sedang tidak ada di Seoul.”

Sungmin berkata dengan mudahnya, membuat gadis yang duduk di sampingnya membelalak kaget.

“Mwo? Tapi .. “

Belum sempat Hyuna menyelesaikan kalimatnya, kamar yang berada di posisi berhadapan dengan sofa tersebut terbuka dan menampakkan sosok yang diam diam gadis itu rindukan. Sosok itu berwujud seorang laki-laki bertubuh tinggi , dengan rambut acak-acakan, kemeja putih yang pas melekat di tubuhnya yang bidang, celana santai dan anduk di kepalanya.

Beberapa detik pria tersebut terlihat kaget, namun dapat mengendalikan ekspresinya dengan baik. Menatap tajam Hyuna, kemudian melengos masuk ke kamar di sebelahnya tanpa mau repot-repot menyapa Hyuna.
Suasana ruangan mendadak hening, tak ada satupun yang berbicara. Mereka semua menatap Hyuna yang masih membeku di tempatnya. Tangan gadis itu memainkan ujung kaos yang dipakainya, menunduk, menahan air yang siap tumpah kapan saja. Seluruh perasaannya kacau, dia rindu pria itu, dia rindu berada dalam pelukan hangatnya dan dia menyesal karena meninggalkannya beberapa bulan terakhir.

Sadar akan situasi yang canggung itu, Lee Sungmin menyentuh pundak Hyuna dan menyuruhnya masuk menyusul Cho Kyuhyun-mantan kekasih Hyuna.

Hyuna sempat ragu, namun dia tidak boleh menahan egonya lagi. Dia datang kesini hanya untuk membicarakan masalah ini dengan Kyuhyun. Jadi dia tak boleh pulang dengan tangan kosong.

--

Hyuna melangkah masuk dengan ragu ke dalam kamar Kyuhyun, menemukan pria itu tengah duduk di sofa panjang yang terletang di sudut kamar, dekat dengan jendela. Pria itu hanya mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali menekuni aktivitasnya bermain psp. Hyuna menghela nafas, dia tidak pernah ditatap seperti itu oleh Kyuhyun. Sekilas dia melihat mata pria itu menahan amarah, rindu dan benci menjadi satu kala melihatnya.

Lima menit berlalu, Hyuna masih tetap diam di samping tempat tidur, tanpa sedikitpun bergerak untuk berusaha menyuarakan isi hatinya. Mendadak dia kehilangan tenaga. Gadis itu hendak menyerah, membalikan badan ketika didengarnya suara langkah kaki yang cepat dan tak lama kemudian sebuah tangan besar menyentuh sisi lengannya lalu mendudukannya di kasur. Pria itu melipat tangannya di dada, kemudian menatap tajam Hyuna. Gadis itu hanya menatap Kyuhyun dengan sendu, merasa menyesal dan  di matanya ada kerinduan yang teramat dalam.

Kyuhyun mendengus menatap mata sendu itu, mengarahkan matanya ke arah lain sebelum menatapnya lagi.

“Kau sudah disini. Jadi bicaralah. Kenapa kau datang lagi?”

Suara pria itu begitu dingin terdengar di telinga Hyuna, gadis itu memejamkan mata sejenak. Meredakan gemuruh hatinya, kemudian dengan helaan nafas panjang gadis itu mengulurkan tangan, seperti anak kecil yang sangat ingin dipeluk. Mendongak menatap Kyuhyun untuk meminta berada dalam pelukannya. Kyuhyun membelalakan matanya, tak percaya dengan tingkah gadis itu. Tanpa menunggu lama, kyuhyun menarik gadis itu berdiri dan membenamkan tubuh mungil itu dalam pelukannya.

“Bogoshipo.”

Suara hyuna teredam oleh dada Kyuhyun. Gadis itu menyuarakan apa yang sejak tadi ingin dia katakan. Bahwa gadis itu sangat merindukan Kyuhyun. Mereka berpisah dengan sangat kekanakan, hanya karena Hyuna yang mudah sekali cemburu hingga membuat Kyuhyun lelah dan menerima begitu saja ketika kata ‘putus’ keluar dari mulut Hyuna.

Dan sekarang diapun menerima begitu saja Hyuna kembali. Kyuhyun terlalu mencintai gadis itu, insiden beberapa bulan lalu memang sudah sepatutnya terjadi. Dia yang salah karena tidak memberitahu Hyuna terlebih dahulu mengenai perannya dalam musikal yang membuat Hyuna marah besar.

Kyuhyun mengelus rambut Hyuna, masih tidak mau melepas pelukan mereka. Kyuhyun mengecup sisi kepala gadis itu, bukan hanya Hyuna yang merindukannya, tapi Kyuhyun juga sangat merindukan Hyuna. Meskipun mereka jarang sekali bertemu, namun lewat message ataupun telepon, Hyuna selalu memberinya dukungan.
Setelah beberapa menit dalam posisi tersebut, Kyuhyun melepas pelukannya. Lalu membingkai wajah gadis itu. Wajah gadis yang membuatnya kalang kabut akibat kecemburuan Hyuna yang sangat besar pada partner kerjanya. Jemari kyuhyun mengusap air mata yang di pipi Hyuna. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Hyuna.

“Sekarang kau tau kan, aku akan selalu kembali padamu, selama apapun aku pergi” Hyuna berkata dengan suara pelan.


“Dan sekarang kau tau kan, bahwa aku memang yang terbaik untukmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk mencari pria lain untuk mendampingimu. Karena hanya aku yang bisa.”