Cinta dalam diam
Dia menghembuskan nafas dengan berat sebelum sebuah pertanyaan meluncur dari mulutnya.
"Seandainya nanti, aku memberitahukan perasaanmu kepadanya, apa boleh? Akan kulakukan segala cara agar dia bisa tahu bahwa kamu menyukainya sejak SMA. Akan kucari alamat emailnya, aku tidak akan malu, toh akupun tak mengenalnya. Bagaimana menurutmu?"
Oh Dee, dia adalah sahabat yang tahu benar bagaimana perasaanku padanya, seseorang yang sudah 6 tahun tidak bisa pergi dari hatiku. Meskipun kami baru dekat akhir masa perkuliahanku, tapi dia membuatku merasa bisa menceritakan apapun padanya..
Aku menggelang menjawab pertanyaannya.
"Tidak. tidak.. ini tidak akan berhasil, Dee. Sungguh aku malu dan setelah kau memberitahunya aku tidak berani bertemu dia lagi."
Dee terdiam menatapku. Dia kembali melontarkan pertanyaan yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
"Lalu kamu akan diam terus seperti ini? Bagaimana jika dia akhirnya dengan wanita lain? Sebenernya aku tidak habis pikir, memangnya hatimu tidak sakit memendam terus perasaanmu seperti ini? Sampai kapan?"
Dia berbicara dengan suara tersendat karena menahan tangis. Tangisannya membuatku tertegun.
"Dee, mengapa menangis?"
Dee mengusap air mata yang mengalir di pipinya, lalu menjawab seraya menatapku tajam.
"Aku tidak akan tahan memendam perasaanku seperti kamu. Bagaimana bisa kamu seperti itu selama ini. Bagaimana bisa?"
Aku menuduk tak berani menatapnya yang masih berusaha agar tangisannya berhenti. Mataku terpejam, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan Dee.
"Dee.. bukan hatiku tidak sakit, bukan. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku. Aku wanita biasa. Yang malu apabila mengakui perasaanku padanya. Dia adalah pria. Pria dengan sejuta pesona yang membuat semua wanita menyukainya. Dia tidak terjangkau untukku. Dia tidak mengenalku. Kami jarang bertegur sapa, aku tidak bisa berada di sekelilingnya karena pasti aku bertingkah konyol. Tidak ada kesempatan untukku bahkan untuk mengobrol dengannya. Dee, maafkan aku membuatmu menangis. Tapi sungguh, biar Allah yang menentukan semuanya. Aku mencoba menerima bahwa mungkin dia bukanlah bagian dari tulang rusukku. Meskipun namanya selalu ada dalam setiap doa-doaku. Aku tidak akan berharap banyak, Dee. Dia sempurna. Aku tidak. Itu cukup untukku agar aku tidak terlalu berharap padanya. Meskipun akan sangat menyakitkan jika akhirnya dia dibersamakan Allah dengan wanita lain.Aku yakin Allah menyiapkan jodoh yang tepat buatku. Entah dia atau orang lain." Aku menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanku.
"Terima kasih atas kepedulianmu. Terima kasih banyak Dee. Maafkan aku yang tidak berani ini... "
Aku memeluk Dee dan tanpa sadar air mataku jatuh..
Biarlah. Biarlah cinta ini tidak tersampaikan. Tidak apa..

